Survival
Orang yang melakukan survival disebut survivor. Survival yang biasa dilakukan yaitu di hutan/alam bebas sehingga disebut jungle survival. Survival terjadi karena adanya kondisi darurat yang disebabkan alam, kecelakaan, gangguan satwa atau kondisi lainnya.
Rimpala (1997), Rimpala (1998) dan Rimpala (2002) menyatakan bahwa setiap huruf dari kata survival merupakan singkatan dari langkah-langkah yang harus kita ingat dan lakukan yaitu:
S : Size up the situation
U : Undue haste makes waste
R : Remember where you are
V : Vanguish fear and panic
I : Improve
V : Value living
A : Act like native
L : Learn basic skill
Secara umum aspek-aspek dalam kondisi survival dibagi tiga yang saling mempengaruhi dan berkaitan yaitu aspek psikologis (panik, takut, cemas, sepi, bingung, tertekan, bosan), aspek fisiologis (sakit, lapar, haus, luka, lelah) dan aspek lingkungan (panas, dingin, kering, hujan).
1. Komponen pokok survival terdiri atas:
a. Sikap mental berupa hati yang kuat bertahan hidup, mengutamakan akal sehat, berpikir jernih dan optimis
b. Kondisi fisik yang fit dan kuat
c. Tingkat pengetahuan dan ketrampilan
d. Pengalaman dan latihan
e. Perlengkapan berupa survival kit
2. Langkah-langkah survival
a. Jika tersesat lakukan tindakan pedoman STOP (Seating, Thinking, Observation, dan Planning)
b. Lakukan pembagian tugas kepada anggota kelompok
c. Tetap berusaha mencari pertolongan
d. Hemat terhadap penggunaan makanan, minuman dan tenaga
e. Hindari dan jauhi masalah-masalah yang mungkin timbul yaitu dari diri sendiri, orang lain dan alam
3. Kebutuhan dasar survival
a. Air
Syarat-syarat fisik air bersih yang layak untuk diminum adalah tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Sumber air antara lain mata air, sungai, air hujan, embun, tumbuhan (rotan pisang, lumut, akar gantung, kantung semar), hasil kondensasi tumbuhan dan air galian tanah
b. Makanan
Saat sumber makanan yang dibawa semakin berkurang, kita dapat memanfaatkan sumber makanan dari alam berupa flora (tumbuhan) dan fauna (hewan). Bagian tumbuhan yang dapat dimakan adalah buah, batang, daun dan akar (umbi). Hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi tumbuhan:
Hindari tumbuhan berwarna mencolok
Hindari tumbuhan bergetah putih, kecuali yang sudah dikenal aman dimakan
Mencoba mencicipi sedikit atau mengoleskan ke kulit.. biasanya tumbuhan yang berbahaya akan menimbulkan efek gatal, merah dan panas pada tubuh
Variasikan makanan yang dimakan untuk menghindari akumulasi zat yang mungkin buruk bagi kesehatan
Jangan memakan tumbuhan yang meragukan untuk dimakan.
Hampir semua unggas dan ikan dapat dijadikan sumber makanan, begitu juga dengan beberapa serangga, reptil, dan mamalia. Kendala utama untuk mendapatkan hewan-hewan liar tersebut adalah cara menangkapnya. Oleh karena itu perlu membuat perangkap (trap) untuk mempermudah menangkap hewan liar tersebut
c. Shelter
Shelter adalah tempat perlindungan sementara yang dapat memberikan kenyamanan dan melindungi dari panas, dingin, hujan dan angin. Shelter dapat menggunakan alam seperti gua, lubang pohon dan celah di batu besar. Selain itu dapat dibuat dari tenda, plastik dan ponco atau menggunakan bahan dari alam seperti daun-daunan atau ranting.
d. Api
Api berguna untuk penerangan, meningkatkan semangat psikologis, memasak makanan dan minuman, menghangatkan tubuh, mengusir hewan buas, membuat tanda/kode, dan merokok. Sumber api berasal dari korek api, lup/teropong, menggosok-gosokkan kayu dengan kayu, membenturkan logam dengan logam atau batu.
Tips Memilih Tenda
Berikut ini tips memilih tenda yang digunakan dalam kegiatan alam bebas:
01. Tinggi tenda
Tinggi tenda sangat berpengaruh terhadap tiupan angin. Semakin tinggi tenda maka semakin tinggi pula daerah yang terkena tiupan angin. Sebaiknya untuk tenda yang dipakai kegiatan pendakian gunakan tenda yang tidak terlalu tinggi (< 1m). Pemilihan tenda yang tidak terlalu tinggi ini berguna untuk meminimalisir tiupan angin yang sering terjadi di pegunungan. Untuk tenda camping sebaiknya pilih tenda yang lebih tinggi (> 1m), selain menimbulkan kesan luas, tenda yang lebih tinggi memberikan kemudahan dalam bergerak di dalamnya.
02. Bahan tenda
Pilihlah bahan tenda yang terbuat dari nylon. Selain lebih ringan, bahan nylon juga memberikan isolasi terhadap suhu yang baik . Hal ini berguna di pegunungan yang biasanya beriklim dingin. Hindari pemilihan tenda dari bahan katun, selain tidak kedap air, bahan katun juga bukan isolator suhu yang bagus.
03. Lembar flysheet
Pemakaian flysheet adalah sebuah keharusan dalam tenda untuk pendakian gunung. Flysheet berguna untuk melindungi tenda dari guyuran hujan. Selain melindungi dari guyuran hujan, flysheet juga dapat menahan uap air yang bisa melembabkan tenda.
04. Jarak flysheet dan bagian dalam tenda
Usahakan flysheet tidak menempel pada tenda. Apabila flysheet menempel pada tenda maka air akan meresap ke kain tenda dan seolah-olah tenda bocor. Jarak ideal flysheet dari kain tenda adalah satu jengkal (10-20 cm). Selain untuk mencegah merembesnya air ke dalam tenda, jarak antara flysheet dan tenda juga dapat berfungsi sebagai ruang sirkulasi udara, sehingga uap air tidak menempel ke tenda yang dapat menyebabkan tenda menjadi lembab.
05. Guylines atau tali pengencang
Tali pengencang ini berfungsi untuk memberikan kekuatan tambahan pada tenda agar lebih tahan terhadap tiupan angin. Tali kekang ini biasanya terdapat pada flysheet. Pasanglah tali pengencang ini dengan kuat, usahakan tali tidak kendur untuk memberikan kekuatan yang optimal.
06. ruang penyimpanan
Ruang penyimpanan atau teras tidak selalu ada pada tenda. Teras bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang atau bisa juga dipakai sebagai dapur pada waktu cuaca kurang bersahabat.
07. bentuk tenda
Pemilihan bentuk tenda tergantung dimana tenda nantinya kan digunakan. Untuk pemakaian di pantai pilihlah tenda dengan banyak ventilasi. Pemilihan banyak ventilasi ini berguna agar tenda tetap terasa sejuk (pantai cenderung panas). Untuk pemakaian di pegunungan, gunakan tenda dengan sedikit ventilasi agar udara dingin tidak masuk ke dalam tenda.
08. bahan alas tenda
Biasanya alas tenda terbuat dari bahan terpal. Bahan terpal dipilih selain kedap air juga karena bahan terpal tidak mudah rusak. Agar alas tenda lebih awet, sebelum mendirikan tenda, bersihkanlah alasnya dari batu-batu kecil, dahan ranting, atau kotoran-kotoran yang dapat menyobek alas tenda. Apabila anda malas membersihkan alasnya, gunakan matras sebelum mendirikan tenda.
09. Berat dan dimensi
Berat dan dimensi disini tergantung jumlah orang yang ikut dalam kegiatan. Semakin banyak orang, maka semakin besar pula dimensi tenda yang diperlukan. Semakin besar dimensi tenda, semakin berat pula tenda. Pilihlah tenda sesuai dengan kebutuhan perjalanan anda. Anda tentu tidak mau terbebani membawa tenda yang berat kan.
Demikian tips-tips dari saya, semoga bermanfaat. Pilihlah tenda dengan bijak.
Ciremai, Sebuah Cerita
--=Sebuah Pengantar=--
Awalnya, tidak terlintas dalam pikiranku untuk mendaki Ciremai. Setelah proyek Semeru gagal, peluang liburanku tinggal Penjaringan Minat Arismaduta. Waktu itu anak-anak jojga lagi kumpul di sekret, aku masih di kantor, ketika ayang sms kalo Gunanda mau pinjem ransel buat ke Ciremai. Hari selasanya Gunanda ke rumah ambil ransel. Dari ngobrol-ngobrol sebentar itu aku jadi tau ternyata mereka berencana berangkat hari jum’at (bukan kamis seperti yang aku dengar sebelumnya). Aku pun tergoda, dan sebelum niat itu hilang, aku putuskan untuk ikut berangkat….
--=Kereta Indonesia=--
Meeting point pertama kami adalah stasiun T.Agung. Kami bertiga (Aku, Feri, Gunanda) berangkat dari sini naik Matarmaja. Waktu sudah menunjukkan jam 17.23 tapi Matarmaja belum kelihatan lokonya. Kami menunggu sambil berbincang-bincang dengan seorang teman yang telah mengantar aku sampai disini. Hampir setengah jam ketika loko putih itu terlihat, kereta yang mengantar kami ke Cirebon pun tiba.
Matar (begitu aku memanggilnya) yang ini terlihat “lebih cantik”. Gerbongnya baru saja di cat, kursinya masih baru, atapnya masih putih, lampu normal, dan kipas angin yang berputar. Sepertinya kereta ini baru saja diremajakan. Sepertinya, rencana PT KAI untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan sudah mulai berjalan. Denger-denger semua kereta ekonomi antar propinsi akan di beri AC dan bebas dari asongan. Sekarang giliran kitalah yang menjaga, jangan sampai fasum (fasilitas umum) seperti kereta api ini tersentuh tangan-tangan vandalisme dan jangan lupa belilah tiket agar kereta di Indonesia semakin baik.
Hanya ada dua kejadian yang menurut aku bagus diceritakan waktu naek Matar. Pertama ketika Feri mencoba ngajak ngobrol seorang cewek. Waktu itu aku masih duduk di kursi, disebelahku ada seorang cewek. Karena capek duduk, aku tukar tempat dengan Feri yang masih berdiri. Mungkin untuk membunuh sepi, Feri mencoba mengajak ngobrol mbak yang duduk disampingnya. Satu dua pertanyaan masih di balas oleh si wanita, tapi begitu masuk pertanyaan ke tiga, sebuah jawaban yang sedikit menyakitkan keluar. “Kenapa nanya-nanya!!”. Feri tersentak mendengarnya, gerbong kereta seakan menghimpitnya kemudian meremukkan tubuhnya. Feri terdiam, tak dapat dia menggerakkan jakunnya, sebuah jawaban yang telak memukul wajahnya hingga KO. Hehehehe
Yang kedua ketika ada pemeriksaan tiket kereta. Waktu itu hanya aku yang beli tiket, yang lainnya jadi penumpang gelap. Tepat seperti yang kami duga, pemeriksaan terjadi di jalur Solo-Semarang. Aku yang beli tiket tenang saja ketika kondektur menanyakan tiketnya. Ketika giliran Gunanda n Feri ada tiga opsi kemungkinan yang terjadi. Pertama, Feri n Gun dimarahi dan diturunkan di stasiun terdekat. Kedua, mereka dikenakan denda dan harus membayar tiket 2x lipat. Ketiga, mereka berdamai dengan petugas dan memberi uang tau sama tau. Dan jawabannya adalah pilihan ketiga. Cukup dengan modal Rp 10.000,00/orang mereka berdamai, sebuah solusi gampang dan saling menguntungkan. Begitulah mental petugas kita dan penumpangnya. (no flame ^_^)
--=Terimakasih Telah Menanti=--
Jam menunjuk angka 6.30 ketika aku tiba ditempat kelahiran Prabu Siliwangi. Cirebon adalah kota yang berukuran medium, tidak sebesar Surabaya, namun lebih besar dari Kediri. Cirebon adalah kota pertemuan kebudayaan Jawa dan Sunda. Kita akan menemukan orang-orang bercakap dengan bahasa Sunda dan bahasa Jawa dalam sebuah keharmonisan. Bagi yang ingin berwisata budaya, Cirebon menawarkan 4 keraton sekaligus, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Kota ini juga terkenal sebagai penghasil udang.
Di Cirebon kami bertemu Tim Surabaya (Rangga dan Imam), mereka sudah sampai duluan. Setelah percakapan yang singkat kami langsung ke melanjutkan perjalanan ke Cilimus (Fajri sudah menunggu disana), butuh waktu 1 jam untuk sampai disana. Kami turun di pertigaan Cilimus, orang sini menyebutnya pertigaan Linggarjati. Acara selanjutnya adalah foto-foto di jalan Linggarjati. Acara dilanjutkan dengan naik angkot ke pos pendakian.
Sopir angkot yang kami naiki sangat ramah, namanya Pak Kusnadi. Waktu itu hanya ada kami berenam dalam angkot, jadi kami bisa leluasa duduk dimana saja. Beliau kemudian bercerita mengenai perjanjian linggarjati dan pernik-perniknya. Kami juga diajak berfoto di depan monumen Linggarjati. Selanjutnya, beliau mengantar kami ke pos pendakian (biasanya sih cuman sampai monumen). Dan semua cukup dibayar Rp 3.000 saja.
Pos pendakian Ciremai ini sangat terawat. Tempat pendaftarannya tertata rapi dengan radio komunikasi dipojok kanan. Tidak ada sampah yang berceceran di sekitar pos pendakian, semua kelihatan bersih. Kamar mandinya pun juga wangi (tidak seperti di Slamet yang dekat kandang sapi, sempit dan bau), ada tempat sholatnya juga. Benar-benar pos pendakian bintang lima.
--=Langkah Pertama=--
Selesai sarapan nasi campur kami langsung berangkat. Pos berikutnya adalah Cibunar, sekitar ½ jam perjalanan. Jalan menuju cibunar masih gampang, campuran aspal dan makadam. Jalanan masih datar-datar saja, perkebunan penduduk berada di kanan kiri jalan. Sempat kami melewati semacam villa dengan view yang bagus (persawahan dan kota).
½ jam pertama ini kami masih beradaptasi, nafas belum teratur, kaki kaget dipaksa kerja keras membawa ransel. Fery jadi korban pertama pendakian ini. Sering kami menuggui Feri ruku’, mungkin dia masih kaget karena sudah lama sekali tidak naik gunung. ½ jam ini terasa sangat menyiksa. Sampai di Cibunar kami istirahat sebentar menata punggung dan mengatur nafas. Tubuhku sudah sedikit nyaman ketika kami kembali berjalan. Otot kaki sudah terbangun dari tidurnya, punggung sudah menyatu dengan ransel, nafas mulai teratur.
Medan selanjutnya mulai naik dan berdebu. Di sebelah utara terlihat laut jawa yang luas. Pohon pinus merah ( kayunya berwarna merah karena jamur) menghias sisi kanan kami. Jalan berdebu mulai hilang ketika kami sudah masuk hutan. Pepohonan disini masih bagus, pohon peneduh dengan semak-semak dibawahnya yang masih rimbun. Sesekali terlihat kera melintas di atas kami, mungkin dia bingung melihat temannya berjalan dengan dua kaki tidak bergelantungan seperti mereka. Pos demi pos kami lalui sebelum kami isitrahat di Kuburan Kuda. Kami istirahat disini, 14.20. Entah kenapa tempat ini disebut begitu, mungkin dulu ada kuda yang tewas dan dikubur disini. Kami tidak ambil pusing memikirkan nama ini, yang penting kami bisa istirahat.
-==Makan Malam=--
Sehabis Kuburan kuda kami langsung disambut medan dengan kemiringan 70-80 sekitar 200m, sungguh menguras tenaga. Setiba diatasnya ternyata ada jalan lain yang memutar dan lebih landai. Setalah melewati tanjakan penyesalan (karena tau ada jalan memutar), medannya lebih ringan, sekitar 60-70. Kami juga bertemu dengan tim dari Tangerang, mereka berjumlah 10 orang. Meraka menjadi tim pembanding dalam perjalanan ini, kami saling salip menyalip. Ketika kami berhenti istirahat mereka mendahului, begitu sebaliknya.
Tiga pos diatas Kuburan kuda ternyata berdekatan. Target awal kami 4 pos kami lewati dalam 4 jam. Kuda-Pengalap kami tempuh 1 jam (sesuai target). Pengalap-Tanjakan Seruni-Tanjakan Binbin sangat berdekatan (1 jam perjalanan). Sampai Binbin, jalanan masih lumayan mudah (60-70). Menurut hitung-kasar, kami bisa bisa sampai labih cepat dari estimasi awal. Binbin-Tere kami target ditempuh dalam 1 jam (berarti hemat 1 jam)
Begitu keluar Binbin, jalanan mulai sulit. Jangan berharap menemukan tanah datar disini. Tanjakan seperti tiada hentinya. Sudah lama kami berjalan, tapi Bapa Tere belum juga kelihatan. Akhirnya kami menemukan sebuah tanah lapang dan memutuskan memasak disini (17.45). Nesting, kompor, gas, parafin, beras, telur minyak goreng, dan mie kami keluarkan. Menu kali ini adalah nasi omelet chef sodik, hehehe. Pertama-tama kami masak nasi dulu, dengan asisetnsi dari Feri nasi aku masak. Nasi selesai berganti membuat omelet. Mie yang sudah direbus dicampur bumbu dan telur kemudian digoreng. Sesi pertama membuat omelet gagal, omelet pecah dan lengket di nesting. Ternyata minyaknya kurang banyak dan terlalu cepat dibalik. Sesi kedua, minyak kami tambah dan nesting di pindah pake kompor gas. Hasilnya, omlet mulai terlihat pada jalur yang benar, tidak pecah dan bisa dibalik dengan benar. Seterusnya, omelet selalu berhasil. Makan malam, istirahat, dan berangkat jam 20.00
--=Malam Pertama=--
Berjalan sebentar dan kami menemukan Bapa Tere di atas kami. Tim Tangerang tarnyata bermalam disini dan kami terus berjalan. Malam ini rembulan terlihat diantara pepohonan menyinari jalan yang kami lewati. Hutan benar-benar asing bagiku ketika malam. Semua serba hitam dan misterius, entah apa yang bersembunyi di dalamnya. Aku hanya menatap kemana cahaya headlampku menuju. Malam ini, hutan bukan milik kami.
Kami berhenti ketika mendapat sebuah tanah lapang yang luas. Bulan terlihat dengan jelas dari sini. Tempat ini ternyata adalah pos Batu Lingga. Menurut Cerita disini dulunya ada sebuah batu besar dan menurut cerita masyarakat setempat dasar kawah gunung Ciremai sedalam Batu Lingga ini. Jadi kalau kita berjalan lurus dari Batu Lingga kita akan sampai di dasar kawah.. disini kami juga menemukan sebuah memoriam, semoga dia tenang disisiNya, amin.
Dari sini jalanan mulai berbatu, dinginnya udara juga semakin terasa. Korban berikutnya dari pendakian ini adalah Rangga, dia mulai masuk angin. Mungkin karena sudah kecapekan dan dingin yang menusuk akhirnya kena masuk angin. Kami istirahat sebentar menunggu Rangga memulihkan diri. Rangga seperti sudah hampir mati saja, seperti Feri waktu diawal-awal perjalanan. Kami berjalan kembali untuk mencari tempat yang bisa untuk mendirikan tenda. Ada beberapa tempat datar tapi tidak cukup untuk mendirikan dua tenda. Jam 23.00 akhirnya kami menemukan tempat datar yang cukup luas. Kami bermalam disini. Feri, Gunanda, dan Rangga di tenda Eiger, sisanya di tenda Reiner.
--=Pra Puncak=--
Sebenarnya alarm di hp sudah aku set jam 4 tapi kenapa baru kedengeran jam 5 an yah? Ternyata alarme sudah bangun dari tadi tadi tapi kupingku masih tersumbat lelah. Semuanya masih malas bangun, pagi ini masih terlalu dingin untuk keluar tenda. Hanya aku dan Fajri yang diluar, menikmati semerawang cahaya mentari. Akhirnya semua bangun juga, setelah aku gangguin tidurnya. Masih malas memang, tapi kami harus segera berangkat. Semua perlengkapan kami tinggal di tenda. Kami naik hanya berbekal 2 botol air 1500ml dan 2 botol 500ml.
Berjalan 3 menit ternyata kami sampai di Buana 1. Aku hanya bisa tersenyum, mengingatkanku waktu pendakian Slamet dulu ketika kami bermalam tepat dibawah pos 5. Jalanan semakin sulit saja, banyak tempat dimana kami harus menaiki anak tangga setinggi 70-80 cm. Untung semua beban sudah kami tinggal di tenda kalau tidak mungkin kami akan kewalahan. Berjalan 1 jam kami sampai di pengasinan, kami bertemu tim Kuningan disini. Mereka sudah sampai disini malam tadi. Bercakap-cakap sebentar dan kemudian naik lagi
Mulai dari sini, medan tanah, batu dan debu menjadi satu. Kaki harus berhati-hati melangkah kalau tidak ingin terpeleset. Ada banyak tempat yang batuannya gampang longsor. Ada juga tanah yang terlihat kuat tapi ketika di injak pecah. Disini yang perlu dipertajam adalah adalah ilmu prediksi. Kita harus pandai-pandai menghitung kekuatan tanah/batu yang kita injak apakah kuat menahan berat badan kita. Salah meprediksi, siap-siaplah terjatuh. Selain itu kita harus bisa membaca jalur. Jangan cuman memikirkan langkah pertama kita tetapi juga 5-6 langkah kedepan kalau tidak mau salah jalan. Setelah berjibaku selama 1,5 jam akhirnya kami sampai juga di puncak ciremai, 09-08-09.
--=Puncak=--
Puncak Ciremai adalah sebuah kawah mati dengan kedalaman 300-400m dari bibir kawah. Kawah yang telah mati itu berwarna putih dengan sedikit warna cokelat di tepinya. Di dekat kawah juga terdapat sebuah hutan semak yang tidak luas tapi cukup memberi komposisi warna hijau yang dominan. Entah berapa diameter kawah ini, mungkin sekitar 1000m. semuanya berupa batu dan tumbuhan semak. Dari atas sini, gunung Slamet terlihat di sebelah selatan menyembul diantara awan. Awan-awan putih sangat kontras dengan warna biru, memberikan atasan yang terang dengan bawahnya yang hijau cokelat. Dikejauhan yang terlihat hanya warna biru, mungkin laut utara dan laut selatan.
Kami sangat senang ketika sampai di atas sini. Rasa capek hilang begitu saja, berganti dengan kegembiraan yang tak terkira. Senyum-senyum kemenangan keluar dari pipi ini. Tak lupa ucap syukur kami haturkan kepada Allah SWT atas karuniaNya yang tak ada habisnya. Tak sia-sia perjuangan kami hari ini, akhirnya kami sampai di puncak Ciremai.
Acara selanjutnya adalah foto-foto dan foto-foto. Entah udah habis berapa gambar, pokoknya banyak. Acara lainnya, tanda tangan di kaos yang sudah aku bawa dari rumah.Ini adalah kaos ke empatku. Tradisi ini aku mulai pada waktu aku naik gunung Lawu di tahun 2008. Kemudian aku lanjutkan sampai sekarang ini. Satu lagi acara yang mungkin tidak di semua gunung bisa dilakukan, telepon. Untuk pertama kalinya aku naik gunung bisa mendapat sinyal di puncaknya. Yang pertama aku telepon tentu saja dan tidak bukan adalah ayang aku donk. ^_^
--=Haus=--
Setelah puas menikmati puncak Ciremai, kami akhirnya turun jam 10.30. sama sulitnya seperti naiknya, kami harus tetap berhati. Selangkah demi selangkah kami menuruni medan berbatu. Ketika turun ini kami berjumpa dengan tim Tangerang yang menjadi teman perjalanan waktu naiknya. Sampai di Pengasinan istirahat sebentar dan melanjutkan langkah lagi.
Ada satu hal yang menggangu perjalanan turun ini, kami kehabis air. Awalnya kami hanya membawa air 2 botol 1500ml yang kami plot cukup buat naik dan turun. Ternyata air segitu hanya cukup untuk naik. Sampai puncak air sudah habis. Yang paling sengsara adalah Rangga. Sudah berapa botol air mineral dia razia, tetapi tak satupun ada airnya. Tapi dia terus mencari, lebih baik jadi pemulung botol aqua daripada mati kehausan, mungkin begitu prinsipnya. Akhirnya Rangga beruntung nemu sedikit sisa kratingdeng, lumayan buat membasahi tenggorokan. Feri juga nemu air dari botol aqua bekas. Tapi semua itu belum cukup mengobati rasa haus mereka. Waktu itu ada antangin cair, tanpa pikir panjang mereka berdua (Rangga dan Feri) meminumnya. Segar memang pada awalnya, tapi terasa panas berikutnya. Sungguh, perjalanan turun ini paling menyiksa bagi penenggak air.
Sampai di camp, target pertama kami adalah minum air!! Seperti tumbuhan layu yang diberi air, wajah mereka langsung sumringah begitu air lewat tenggorokan mereka. Sebenarnya aku masih punya sisa air sedikit, tapi kalau dibagi kesemua tidak akan cukup. Maka air itu aku sembunyikan sampai semua tiba di camp. Satu pelajaran penting yang kami dapat hari ini. Bawa air sebanyak yang kalian bisa bawa!!
--=Makan Siang=--
Selesai berkangen-kangen dengan air acara kami lanjutkan dengan memasak. Rangga kali ini yang jadi chef dapur kita. Ada beberapa menu kali ini, sayur makaroni, telur goreng, sarden, dan mie kuah. Chef Rangga kebagian masak nasi. Semua beras yang tersisa, dia masak. Sementara Rangga mengurus nasi, yang lain bagi tugas menyiapkan menu lainya. Ada yang sibuk bikin telur goreng, aku kebagian masak sayur. Ada juga yang bikin bubur instan buat nunggu semua matang.
Begitu acara masak memasak selesai sekarang tinggal memberi penilaiannya. Dimulai dari nasi, nasinya masih berupa karon. Karena berasnya kebanyakan, nasinya malah ndak matang dan menjadi karon. Banyak yang kami buang, kami pilih yang sudah matang saja. Makaroni sayurnya sukses ditambah sosis, telur goreng dan mi kuah berhasil dengan baik. Sedangkan sardennya cukup dihangatkan saja. Makan siang selesai, packing dan berangkat jam 14.30
-==Pulang Juga=--
Perjalan pulang ini sangat “ringan” dalam arti sebenarnya. Air minum banyak yang sudah habis, makanan juga begitu. Isi ransel tinggal perlengkapan tidur dan beberapa helai baju saja. Dan perjalanan pulang ini juga sangat “ringan” dalam arti yang bias. Jalanan menurun memberi kita kecepatan lebih dengan terori gravitasinya. Semua terasa cepat, dan tak terasa lama. Dan kami saling salip menyalin dengan tim Tangerang lagi.
Perjalanan pulang ini kami selingi dengan canda tawa. Imam menjadi menjadi targetnya. Seperti kabar kabur yang kita dengar, sepertinya Arjuna kita ini sedang berjuang memikat hati Srikandi. Entah bagaimana cerita awalnya, akupun baru tau pas pendakian ini. Setiap ada celah, Imam selalu kami “jatuhkan”. Dan apapun yang kami bicarakan, ujungnya tetap ke Imam. Imam hanya bisa membela sekedarnya, tak mungkinlah dia melawan kami berlima. Kepsrahannya ini seakan membenarkan apa yang kami kira. hehehehe
Perjalanan sedikit melambat ketika cedera lama Fajri kambuh. Lutut Fajri ternyata tidak kuat menahan beban tubuhnya. Kami berhenti Pengalap untuk memulihkan cedera lututnya. Mulai dari sini Fajri kami pindah ke barisan paling depan. Aku jadi sweper sendirian dibelakang. Akhirnya formasi pendakian yang sudah dipatenkan sejak jaman bauleha berubah. Aku dan Fajri sudah jadi tim sweper entah sejak kapan. Hampir disemua pendakian yang kami ikut dapat dipastikan tim swepernya adalah kita. Sudah lama sekali kita melepas jabatan leader (terakhir jadi leader waktu masih SMA, 6 tahun lalu).
--=Lampu Kota=--
Masuk maghrib ketika kami tiba di Kuburan Kuda. Kami berhenti lama disini, menunggu adzan selesai. Makan malam dengan roti dan mempersiapkan senter. Perjalanan malam ini begitu sepi. Tidak seperti tadi yang penuh canda tawa (tentang Imam), kali ini benar-benar tertutup mulut ini. Tidak ada tawa terdengar, tidak ada teriakan bersahut, semua hanyut dalam dunianya sendiri. Kata-kata hanya keluar ketika kami mendiskusikan tentang persimpangan mana yang harus kami ambil.
Kami berhenti lama lagi di atas cibunar. Disana pemandangan malam kota sungguh indah. Sejauh mata memandang hanya ada lampu lampu, dan lampu. Sungguh sayang untuk dilewatkan. Disini juga tim Tangerang beristirahat, menikmati lampu-lampu itu. Berjalan sedikit lagi dan sampai juga di Cibunar.
Kami berhenti di Cibunar untuk mengambil air dan istirahat. Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke pos pendakian yang berjarak ½ jam dari sini. Kami sampai di pos jam sekitar jam 21.00. Seneng juga akhirnya bisa melihat bangunan ini lagi. Tapi kami ndak boleh berlama-lama disini kalau masih ingin naik kereta ke Jogja. Yang pertama kami lakukan adalah lapor dulu. Kemudian kami bersih-bersih badan, ganti baju, packing lagi. Dan yang paling penting beli makan.
Sembari menunggu makan malam jadi, sekarang waktunya nego Pak Kusnadi untuk antar kami ke stasiun Cirebon.Waktu itu dia pasang taris Rp 100.000,00. Imam yang kebagian jadi juru runding, akhirnya harga yang disepakati jadi Rp 75.000,00. Sambil nunggu makanan jadi, kami berburu cinderamata dari Ciremai. Kebanyakan dari kami membeli stiker dan gantungan kunci. Dan setelah dipikir-pikir, nasi pesenan kami lebih baik dibungkus saja demi menghemat waktu. Jam 22.00 kami meninggalkan pos pendakian ini
--=Selamat Jalan Cirebon=--
Angkot ini melaju kencang, jalanan lumayan sepi malam ini. Hanya ada kami berenam di angkot ini, serasa naik travel vip. Tak lama kemudian kami berpisah dengan Fajri d pertigaan Linggarjati. Fajri langsung ke Jakarta, kami ke Cirebon kota. Sepanjang jalan, hanya tersisa 4 orang yang bertahan, aku, Gunanda, Imam, dan Rangga. Banyak hal yang kami perbincangkan di dalam angkot vip ini. Mengenai pendakian ciremai ini, gunung-gunung yang lain, kisah-kisah misteri dan masih banyak lainnya. Sambil bercerita, tak lupa aku menikmati jalanan Cirebon di malam ini. Jarang-jarang kesini, harus dinikmati setiap detilnya.
Kami datang tepat pada waktunya, kereta bengawan yang akan mengantar kami berangkat 30 menit lagi. Sampai di stasiun cirebon kami langsung beli tiket kereta dan makan nasi bungkus. Hmm, nikmat sekali makan malam ini, nasi, telur, sambal, mie. Menunggu sebentar dan kami langsung bergabung dengan penumpang lain yang sudah berjubel-jubel di dalam gerbong kereta. Biarpun tak dapat tempat, yang penting kami bisa pulang. Jogja, kami datang!!
Slamet= Petualanganku
Dalam rangka memeriahkan Pemilu 2009, Aku, Fajri, dan ketiga teman satu kantornya pergi ke gunung Slamet. Tapi jangan dikira kita golput ya, sebagai warga negara yang baik dan patuh terhadap hukum,hehehe, kita wajib untuk memberikan suara pada pemilu ini. Apa sih arti suara kita? Satu suara tidak bisa merubah apapun.Toh setelah terpilih mereka yang di senayan akan lupa janji-janji mereka dalam pemilu kemaren. Mereka akan sibuk buat mengisi kantong mereka sendiri, bukan untuk mengisi kantong para konstituennya. Mereka hanya menganggap kita ada saat pemilu, setelah itu kita adalah sampah yang harus dibuang jauh-jauh.
Memang, itu ada benarnya, tapi menjadi golput bukanlah sebuah solusi. Dengan tidak memilih berari kita menyerahkan bangsa ini kepada para orang-orang bejat disana, dan pada akhirnya negara ini akan tambah rusak lagi. Kalau mau negara ini tambah rusak, silahkan golput saja! Kalau mau negara ini menjadi lebih baik, rubahlah. Rubahlah negara ini mulai dari diri kita sendiri, dengan memberikan satu suara kita berarti membantu merubah negara ini. Pilihlah yang terbaik dari yang ada dan berharap mereka mampu menjadi lebih baik. Dan ketika pilihan kita itu salah, PILIH YANG LAIN DI PEMILU BERIKUTNYA!! Kok jadi ngomongin pemilu gini ya? Mana nih cerita perjalan ke Slametnya? Maaf pak moderator, intronya kepanjangan n menyimpang dari topik!!! Wkwkwkwkwk. Iya….iya, nih ceritanya
Tidak seperti biasa-biasanya, kali ini aku berangkat sendiri dari my hometown, Tulungagung (I was born in Trenggalek, but Tulungagung is my HOME). Jam 7 malam aku berangkat, di antar calon istri ke terminal. Ndak ada acara tangis-tangisan n peluk sayang, langsung cabut. Sampai ketemu 3 hari lagi!!!
Route yang aku lewati lumayan jauh, Tulungagung, Braan, Jogya, Purwokerto. Kalo ditotal sekitar 12-13 jam naik bus. Hufff, perjalanan yang melelahkan. Untungnya aku berangkat malam jadi ndak begitu kerasa lama, kan bisa sambil tidur. Sampai Jogya sudah hampir tengah malam, waktu itu cuman ada 5-7 orang yang turun, sama dengan waktu berangkat kesini. Bagi yang biasa maen-maen kesini siang hari pasti kaget waktu ngeliat terminal ini pas malam, sepi….sepi…..sepi banget, bus yang ke purwokerto pun cuman ada satu. Pindah bus trus tidur lagi.
Mulai jalan ke Purwokerto, aku udah ngga bisa tidur lagi. Waktu itu udah jam 3.40, cuaca bagus sekali. Bagi yang suka sama suasana mistis/horor cocok banget, mirip di bus hantu. Bayangin aja, di dalam bus cuman ada aku, sopir+crew, n beberapa penumpang. Jalanan sepi banget, kita ndak simpangan apapun dari tadi, kabut dimana-mana, kanan kiri pohon-pohon besar, n bus ini pelan banget, perfect scene!!! Dari yang semula menyeramkan jadi sangat-sangat retro ketika matahari sudah terlihat. Bagi yang pernah liat pilem Indonesia di tahun 60’an, kita dapat melihatnya sekarang tanpa harus naik mesin waktu. Jalanan ini ternyata membelah hamparan padi yang luas, sesekali kami melewati perkampungan, aku melihat rumah-rumah kecil dengan penduduknya yang ramah, kudengar mereka asyik bercakap-cakap tentang hasil sawahnya, hama tikus yang menggangu panen mereka, ayam pak Kirman yang hilang, atau sekedar menikmati cuaca pagi yang dingin, sinar mentari makin membuat tempat ini menjadi kekuning-kuningan. Waktu serasa melambat di tempat ini, it’s classic!!!. Beranjak siang, wajah garang Indonesia mulai terlihat. Bus yang penuh sesak penumpang, orang-orang dingin lalu lalang dengan kesibukan masing-masing, calo terminal teriak-teriak seperti liat Inul goyang ngebor, sikap ramah yang bermaksud lain, senyum simpul yang menipu, Ironis!!!
Aku ketemu Fajri n pren di masjid yang aku lupa namane, mereka dah menungguku cukup lama. Maaf ya. Mas Win, Budi, Rendra, aku kenalan dengan mereka. Tak perlu lama-lama kenalannya, kita pun lansung berangkat ke pertigaan Serayu. Kita jalan kaki kesana, lumayan buat pemanasan. Jaraknya entah berapa kilo, kita jalan kaki sekitar ½ jam lebih. Lumayan berkeringat juga, dah lama ga’ jalan-jalan sih. Sampai disana, wajah garang Indonesia mulai terlihat lagi. Begini ceritanya, disini ada dua angkutan yang melayani rute pertigaan serayu – pos pendakian, coax dan angkot. Coax? Nama yang aneh untuk sebuah alat transportasi. Beroda empat, punya bak terbuka di bagian belakang, itulah coax. Mobil pick up, itulah terjemahan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka lagi memperebutkan “kita”, si angkot ngotot kita jadi penumpang mereka, si coax juga ndak mau kalah. Si angkot mengklaim melihat kita lebih dulu dan itu berarti kita jadi penumpangnya, si coax nggak diem aja, mereka melobi kita buat naik coaxnya. Kita cuman bisa diem aja melihat mereka ngrebutin kita. Sambil nunggu sapa yang menang, aku sarapan dulu nasi sayur tambah telur. Makan disini ambil sendiri, artinya aku boleh ambil sekuat aku mampu, hahaha. Selesai sarapan akhirnya pemenangnya adalah si angkot. Berangkatlah kita ke pos pendakian.
Standarnya sih angkot ini isinya cuman 8 orang + 1 sopir. Tapi, orang Indonesia emang kreatif banget, dari 8 bisa jadi 17 orang. Hebat euy. Tapi tak apalah, biarpun keselamatan nggak terjamin yang penting bisa nyampek pos. kita seperti ikan sarden dalam kaleng berkarat, setiap mobil ini melewati tanjakan hati serasa berdebar. Gimana kalau waktu naik mobilnya ngga kuat trus seluncur turun? Ndak kalah deg-degan pas turunan, kalau tiba-tiba remnya blong gimana? Ngeri juga mbayanginnya, tapi untungnya itu ngga’ sampai kejadian. Satu persatu penumpang angkot ini turun juga hingga menyisakan kami berlima. Lega rasanya sekarang, kursinya bisa buat tidur-tiduran. Tak lama berselang, kita sampai di pos pendakian dengan selamat.
Kata ibu xxx (penjaga pos sekaligus yang ngurusin perijinan buat pendakian), hari-hari ini banyak yang mendaki ke Slamet. Ada lebih dari 3 tim yang berangkat pagi hari tadi, belum yang berangkat kemaren pas pemilu. Yang akan berangkat juga masih ada, 11 orang dan kami berlima. Kami berangkat habis jum’atan di dekat masjid sini. Berhubung hari ini banyak pendaki yang sowan ke Slamet akhirnya masjid ini penuh sampai ke jalan-jalan. Akupun kebagian tempat diluar masjid pakai matras yang aku bawa. Dan yang lebih keren lagi, hampir semua jemaat disini pake sandal keren-keren. Ada eiger, north face, boogie, northwand, cartenz, dll. Bukan cuma pendaki aja yang make tapi juga penduduk lokal. Entah dapet dari mana mereka, mungkin ada pendaki yang kehabisan uang terus jualan sandal. Hehehehe
Jalan pertama yang kami lewati adalah perkebunan penduduk. Setengah jam pertama napas serasa udah mau habis aja. Maklum, sudah 6 bulan lebih ga da aktifitas kegunung, jadi masih belum bisa ngatur napas lagi. Capeknya kerasa banget karena sebentar-sebentar kita berhenti, pengalaman pertama pendakian bareng orang-orang yang pertama kali mengenal gunung. Hijaunya dedaunan dan keriputnya kulit ibu pertiwi sudah cukup untuk melepas penat ini. Perjalanan awal ini masih dalam skala normal menurut aku. Tidak terlalu curam, masih cukup nyaman. Istirahat besar pertama kami adalah di sebuah tempat yang sebut saja pos 2 (pos 2 yang sebenarnya juga belum ketemu atau mungkin udah terlewati), kira-kira jam 17.00. Sembari istirahat tak lupa secangkir energen hangat menemani kami menikmati sore ini. Capek hilang, tantangan datang. Jalan malam adalah sesuatu yang tidak terlalu aku suka. Pertama, jarak pandang jadi terbatas sehingga kemungkinan tersesat semakin besar. Kedua, gelap memberi kesan “tidak nyaman”. Ketiga, cuaca jadi tambah dingin. Beruntung kali ini aku bawa head lamp jadi ga’ capek pegang senter. Sayonara senter, selamat datang head lamp :P
Target kami jam 21.00 harus sudah sampai pos 4 dan istirahat. Tapi, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan lah yang memutuskan. 23.00 kami sampai pos 4 dan pos ini sudah ada yang menempati, kami jalan ½ jam sebelum ketemu tempat buat camp. Akhirnya isirahat juga. Buka tenda, masak buat makan malam, terkaparlah kami. Budi, Rendra, Windu tidur di tenda, aku dan Fajri buka matras tidur diluar berselimutkan SB. Malam ini Tuhan baik hati, langit lagi bagus-bagusnya. Seharusnya aku dulu belajar astrologi biar bisa baca konstelasi bintang, yang aku tahu cuman si Milkway, atau kalau diIndonesiakan dengan baik dan benar Bima Sakti. Kenapa ya nggak diberi nama Kresna Sakti, atau Hanoman Sakti. Ahh, daripada bingung ngurus nama mending istirahat buat besok. Puncak Slamet sudah menunggu kami…
Paginya aku bangun paling akhir, hehehehehe. Sudah ada teh hangat disampingku. Rendra sama Budi lagi masak sayur sop dan tempe goreng. Yang laennya bongkar tenda dan packing, sungguh nyaman sekali diriku, hahaha. Sebelum aku cerita lagi, ada yang ingin aku omongin dulu tentang kondisi hutan disini. Hutannya masih bagus (kecuali yang di awal-awal, sudah jadi perkebunan), rapat, pohon-pohon besar dan dibawahnya tumbuhan semak, sesekali kita melewati parit-parit sedalam 1,5-2 m. Parit ini terbentuk karena tanah yang tergerus oleh air hujan membentuk semacam sungai kecil berbentuk V. kenapa berbentuk V? Silahkan mengingat kembali pelajaran Geografi SMP kelas1 tentang tipe-tipe sungai menurut bentuknya. Adakalanya pohon tumbang menghalangi jalan sehingga kita karus berjalan diatasnya atau merangkak. Dibeberapa tempat, jalanan menjadi bercabang, kebanyakan akan bertemu kembali di satu titik, tapi ada juga yang tidak. Jadi berhati-hatilah bila memilih persimpangan.
Kembali ke cerita, Pos 5 ternyata dekat sekali dengan tempat kami menginap semalam (mengingatkanku pada waktu perjalanan malam ke Wilis, ternyata kami menginap “hanya” sepelemparan batu dari Watu Godek). Dari sini baru kelihatan Sindoro Sumbing di sebelah timur. Sebentar lagi kami akan menyentuh S yang ketiga. Biasanya pendaki mendirikan tenda disini dan meninggalkan barang-barangnya. Tapi kami bukan pendaki itu, demi bisa berpose di depan kamera dengan carrier, kami rela bersusah-susah membawanya. Dan ternyata keputusan kami itu benar-benar menguras tenaga. Tak terhitung berapa kali kami harus istirahat demi niatan tersebut. Tak bosan pula kami menjawab pertanyaan berikut “Mau lintas ya mas?”. ”Ndak” jawab kami. “Kok ranselnya dibawa?”. “Pengen aja” kami menjawabnya dan sebuah tatapan aneh pasti mengembang di wajah mereka. Ternyata kalau ada pendaki yang bawa ransel ke atas berarti akan lintas jalur (naik dari sini turun di batu raden). Itulah harga sebuah photo.
Sampai di kaki Slamet sudah jam 00.00. hutan belukar berganti bebatuan dan kerikil-kerikil. Sudut kemiringan 60 lebih dengan panjang sekitar 1 km. sempat terpikir untuk meninggalkan ransel di pos 9 ini (pos terkahir) tapi demi yang telah disebut diatas tetap kami bawa juga. Tidak yang setengah-setengah, sekali ya tetap ya. Hahaha. Jalan ke puncak Slamet berbeda dengan ke puncak Semeru. Semeru memiliki pasir yang lebih halus, sedangkan disini lebih tepatnya disebut pasir kasar dengan diameter 0,5-1 cm. Batuannya juga lebih berwarna ketimbang semeru (emang pernah kesana? Sok tau aja. Hahaha, doain sebentar lagi aku bisa bertamu kesana, amin). Jangan khawatir tersesat soalnya tidak ada jalan yang benar disini, silahkan buat jalan sendiri-sendiri, dengan begitu, resiko terkena longsoran pasir menjadi lebih kecil. Skor rata-rata disini 5-2 ( 5 langkah naik, 2 langkah turun). Terakhir dan yang tak kalah penting, jangan sampai tergelincir!!!
Aku sampai puncak pertama kali, terkapar menunggu yang lain. Setelah satu persatu sampai sini, it’s time to celebrate our victory. Ucapan selamat meluncur dari mulut kami satu persatu, tangan ini tak henti-hentinya saling berjabat, rasa syukur tak berhenti aku ucapkan dalam hati, terimakasih Tuhan. Puncak Slamet menawarkan pesona kawah yang indah. Apabila kita mau lebih dekat kesana, tentunya harus menuruni bibir kawah ini. Ingin rasanya melihat kawah yang berwarna kekuning-kuningaan itu dari dekat. Tapi ketika teringat jalan kembalinya, yang harus naik, aku memilih melihatnya dari sini saja. View puncak yang ditawarkan? Standar lah, seperti puncak-puncak gunung yang lain. Awan yang menari-nari, hamparan hutan yang menghijau, angin yang menusuk tulang dan pemandangan lainnya. Tapi, tiap gunung pasti memberi kesan tersendiri-sendiri dan itu akan kami dapatkan ketika perjalanan pulang nanti.
Turun dari Slamet ternyata tidak mudah, jalan yang curam n berbatu memberi resiko yang tidak ringan. Salah injek batu, Welcome in the Hell!! Butuh konsentrasi tingkat tinggi dan ilmu prediksi yang mantab buat menghitung brapa % peluang batu yang kita pilih tidak longsor. Kalaupun udah bisa, masih ada kendala lagi, pergelangan kaki. Medan yang menurun memberikan tekanan maksimum pada persendian yang bisa mengakibatkan bergesernya mata kaki. Dan ketika kami sampai di pos IX, 2 sahabat kami luka parah, 1 luka ringan, 2 orang selamat. Aku sama fajri masih bisa bertahan, 3 lainnya sudah mulai sakit pergelangan kakinya, yang paling parah Rendra sama Win. Mungkin karena pergelangan kakinya tidak kuat menahan beban tubuh, mereke berdua yang jalan pincang untuk sesi pertama. Perjalanan ini juga semakin menarik ketika sekumpulan air berjatuhan dari langit, kami beristirahat di Pos VIII.
Hujan dan dingin memberi suasana yang bagus untuk tidur, kami terkapar. Sesuatu yang membangunkan aku adalah rasa mual. Ternyata penyakit lama yang aku bawa dari perjalananku di Arjuno Welirang juga ikut kesini, masuk angin. Dan karena disini tidak ada suster cantik yang mau merawat aku, aku melakukannya sendiri. Pertama, aku minum obat dulu, kemudian membuat makanan untuk dimuntahkan lagi, waktu itu aku buat mie. Nah,daripada cuman buat mie sendiri, aku masak yang banyak sekalian untuk makan siang. Selesai makan, akupun tidur bentar buat ngilangin pusing. Bangun-bangun tinggal aku, Fajri sama si Budi, yang lain udah jalan duluan. Badan sudah nyaman, perjalanan dilanjutkan.
Perjalanan pulang ini seperti pertarungan kereta ekonomi melawan kereta eksekutif memperebutkan jalur rel. Cuman yang membedakan kalau biasanya klas eknomi kudu mengalah kalau eksekutif lewat, sekarang itu dibalik,yang eksekutif kudu nunggu ekonomi lewat. Begitulah keadaan kami. Rendra sama Win jalan duluan, coz mereka yang paling parah kakinya, yang lainnya kudu nunggu dibelakang. Biasanya setelah mereka jalan 10-20 menit kita menyusulnya. Kenapa tidak jalan bareng saja? Karena kalau harus jalan bareng kita akan cepet capek. Sedikit-sedikit kami harus berhenti istirahat untuk meredam rasa sakit. Bagi yang sakit itu memang membantu, tapi bagi yang sehat, itu sangat menyiksa. Maka daripada itu, kita jalan terpisah. Yang sakit duluan, yang sehat nunggu dibelakang.
Hari mulai malam ketika kita sampai di pos IV. Istirahat sebentar dan kemudian jalan lagi. Senter ini seperti pemberat di tangan kami (untung aku pake headlamp :p), gelapnya malam memberi keuntungan karena kita tidak tahu seberapa jauh lagi perjalanan ini, pokoknya kita harus jalan aja. Nggak enaknya, serem banget. Pohon-pohon itu seperti sedang mengawasi kami, suara tangis dedaunan yang terinjak seakan-akan mereka berkata “Hei… jangan injak aku!!”. Mereka tidak rela kami berjalan di atasnya. Belum lagi makhluk-makhluk lain yang ada disini, kami seperti di kerumuni mereka saja. Untungnya, perjalanan suram itu berlangsung lama. Jam 24.00 kami keluar hutan.
Setelah 6 jam lebih terperangkap di dalam hutan, akhirnya kami bisa juga menikmati cahaya rembulan yang ditemani kerlip-kerlip bintang. Di ujung sana lampu-lampu kota semakin mempercantik malam ini. Terimakasih untuk viewNya. Sekarang kami berjalan diantara perkebunan warga, sesekali kami memasuki hutan pinus yang memisahkan ladang satu dengan ladang lainnya. Dan dalam ketenangan malam, kami akhirnya tersesat juga.
Kami mulai memperdebatkan rute setelah pertama kali keluar dari hutan seram tadi, Hendra yakin kita udah salah jalan, sedangkan Fajri yakin jalan ini udah benar. Untuk yang ini aku yakin Fajri yang bener. Perdebatan berikutnya di sebuah pertigaan, yang satu turun kebawah, sedangkan yang satunya belok kanan, aku memilih yang kekanan. Yang ketiga disebuah pertigaan juga, yang satu ke kiri, yang satunya lurus. Waktu itu tidak banyak yang tahu kalau ada pertigaan ini, jalanan waktu itu berkabut tebal, cuman aku sempat bilang Fajri kalau ada pertigaan ini, kami ambil yang lurus.
Setelah lama berjalan ternyata jalan ini menuju sungai, padahal pas berangkatnya kami tidak melewati sungai ini. Kami pun bingung, waktu itu aku sempat meriksa jalur ini sementara yang laen nunggu disungai dan aku yakin ini jalan yang salah. Kamipun memutuskan untuk kembali, sebelumnya kami sempat berpikir untuk susur sungai saja karena menurut perkiraan sungai ini adalah sungai yang kami lihat di kiri kami pada waktu berangkat kemarin. Tapi aku menolaknya, terlalu berbahaya jalan malam lewat sungai dengan kondisi 3 orang luka (Hendra mulai mengeluh soal kakinya). Mas Win juga sudah mulai ndak kuat jalan lagi, dia pengen ada yang balik dulu buat mastiin jalan ini salah. Tapi dengan sedikit bujuk rayu akhirnya mereka semua mau balik kepertigaan yang aku bilang ke Fajri.
Sampai dipertigaan yang aku bicarakan dengan Fajri kami istirahat. Ternyata waktu aku membicarakan pertigaan ini dengan Fajri dia tidak mendengarnya dan dia juga tidak tahu kalau ada pertigaan ini. Aku dan Fajri kebagian tugas buat meriksa jalan. Kabut pagi itu membuat jarak pandang jadi sedikit, headlamp ini memjadi sia-sia. Setelah bebarapa lama, akhirnya kami menemukan tanda yang kami lihat siang kemarin, kamipun kembali ke pertigaan tadi. Setelah memakai jas hujan, kami berlima melanjutkan perjalanan lagi, waktu itu kabut mulai mencair. Dan kami akhirnya menemukan Pos I, lega sudah hati ini.
Perjalanan berikutnya adalah melewati kebun wortel. Puas dengan makanan kelinci, sekarang berganti dengan bunga kol dan yang terakhir adalah jagung. Berjalan di tengah-tengah ladang di sinari cahaya rembulan menawarkan sensasi yang berbeda. Ada perasaan takjub, hati ini berdesir, Tuhan memberikan akhir yang indah untuk sebuah penyerahan diri kepadaNya. Akhirnya, jam 3 pagi kami sampai di pos pendakian. Capeknya sudah luar biasa, bayangkan saja, mulai jam 2 siang sampai jam 3 malam!! Dan yang lebih bagus lagi pos ini sudah tutup, kami pun tidur di parkiran beralaskan matras. Besok pagi kami pulang.
Aktivitas pagi ini adalah bersih diri, jangan berharap untuk mandi, setelah pengalaman mandi pertamaku disini, aku mendingan mandi di terminal nanti. Sarapan kali ini adalah nasi goreng, dingin-dingin emang enak makan yang hangat. Selesai sarapan giliran ransel yang dibersihin. Sekarang tinggal menunggu angkot untuk pulang.
Pulangnya kami bareng dengan anak-anak dari Jakarta juga, ternyata meraka dulunya masih satu kampus cuman lebih tua mereka aj. Rute pulang kali ini berbeda dengan waktu kami berangkat, kami lewat BatuRaden. Nggak nyesel deh pulang lewat sini, viewnya itu loh, kereeen. BatuRaden adalalah sebuah wana wisata(wisata hutan) yang menawarakan pemandangan yang luar biasa. Kami berjalan di lerang hutan dengan pemandangan kota di bawah sana. Hutannya juga bagus sekali, pohon disini besar-besar, sesekali kami melewati sungai yang eksotis dengan air terjun mini. Burung-burung beterbangan cuek diatas kami, tak sadar kalau mereka sedang kami kagumi. Cukup lama kami menjelajahi BatuRaden, setengah jam lebih, sebelum akhirnya kami kembali dihimpit semen, bata, besi, dan teman-temannya.
Kami berpisah di terminal Purwokerto, aku kembali ke Tulungagung mereka balik ke Jakarta. Disinilah akhir dari sebuah awal yang baru. Terimakasih untuk semuanya, yang telah menungguku di Masjid, yang dengan penuh semangat menjelajahi Gn Slamet, yang dengan tenaga terakhir bisa menyentuh puncak, yang dengan sebelah kakinya menaklukkan malam, yang dengan keberanian mengatasi ketakutan masing-masing, dan akhirnya membuat kita berbeda dalam harmoniNya.
Arjuno Welirang H2
Jam berapa bangunnya aku lupa, tapi menurut catatan sih jam 4.58 am. Aku masih ngantuk puool. Kulihat Feri n Ndun2 udah masak buat sarapan, makasih ya temen-temen. Danies, ntah ga tau kemana. Sarapan kali ini masih menu standar, nasi, mie, sarden, telor asin. Selesai sarapan sebagai wujud rasa terimakasih kita berdua mengajukan diri untuk nyuci nesting sekalian sikat gigi+cuci muka.
Kita berangkat jam 7.20 am. Kita emang berangkat duluan dibanding anak SMA7 coz nanti pasti disalip lagi. Kami melawati jalan yang semalem kami lalui. Tak lama berselang kita udah nyampek ditempat persembunyian air. Selesai ambil air kita nglanjutin perjalanan kembali. Dan tak lama kemudian kita nemuin sumber air!!! Nyesel dech semalem balik kucing ke kop2an, padahal jarak kami balik ke sumber air cuman 1/2 jam. Dan mulai dari sini kita jalan bareng lagi dengan anak SMA7 (lagi).
Jalannya sangat berdebu, kami pakai slayer buat nutupin hidung. Mungkin karena musim kemarau dan ada proyek makadamisasi jalan ke pondokan jadi debunya makin parah. Selain berdebu, hari panas sekali. Udah aku pake celana n baju hitam jadi makin panas. Yang paling tersiksa adalah ndun2 coz aku suruh dia hemat air dan itu sulit banget di cuaca sepanas ini. Tantangan lainnya jalannya mulai naik, sebentar-bentar kami ruku', wkwkwk
Jam 9.45 kami tiba di pintu masuk hutan lali jiwo. Kita istirahat lumayan lama disini. Di kanan kami terlihat puncak Welirang yang sebentar lagi kami daki. Menurut kabar yang kami denger, banyak pendaki yang tersesat disini. Kalo ada pendaki yang punya niat ga' baik pasti hilang atau minimal tersesat. Aku sempet miris juga, maklum pikiranku
Kamipun mulai masuk hutan lali jiwo. Hutannya sih sama aja ama hutan yang lain. Vegetasinya berupa tumbuhan semak dengan pohon-pohon besar. Panas matahari ga begitu terasa disini. Jalannya tidak begitu menanjak cuman banyak percabangannya. Mungkin itu yang bikin pendaki tersesat disini. Selain itu, menurut pendapatku sih, topografi lali jiwo yang cenderung "datar dan luas" yang membuat kita sering kehilangan orientasi begitu masuk hutan lali jiwo.
Setelah melewati hutan lali jiwo yang mistis kami sampai di pondokan sekitar jam 12.00. Semua tiba dengan selamat, amien. Target kami selanjutnya adalah welirang. Tapi sebelumnya kami istirahat dulu disini sekalian kenalan dengan tim SMA7 yang lain. Ternyata tim advan mereka dah sampai duluan disini daripada tim intine. Makan siang dengan roti dan kami siap berangkat.
Kami naik welirang tidak bawa ransel, tapi menyewa jasa porter. Smua barang kami tinggal di pondokan di shelter SMA7. Kami naik hanya bawa 1 ransel berisi air 3 botol aqua, mantel, bendera dan senter. Dan porter kami adalah Ndun2, wkwkwk. Dengan alasan ini pendakiannya buat ambil scraf biru, maka dengan sukarela (lebih tepatnya dipaksa) Ndun2 jadi porter.
Awal perjalanan masih lumayan nyaman. Jalannya tidak begitu menanjak. Namun begitu sampai di pertigaan arbei ke kanan, bersiaplah!!! Jalannya naik curam, (aku kasih nilai 8 dari maks 10) jangan berharap bonus disini. Semua menajak selama hampir 2 jam perjalanan. Ndun2 terlihat sangat tersiksa, wkwkkwk. Pernah Ndun2 berniat meninggalkan ranselnya disini tapi ga jadi.
Jam 3.00pm kami sampai di sebuah lapangan. Dari sini jalannya dah mudah, kita tinggal menyusuri jalan penambang. Cuman yang sedikit berbahaya di kiri kita langsung jurang. Cukup terpelest untuk say good by kepada orang-orang tercinta. Tapi semuanya tertebus ketika kami bisa melihat puncak Welirang di ujung
Dari puncak Welirang kami bisa melihat ke smua arah mata angin. Semua begitu indah, batunya, wangi belerang, hutannya, Arjuno. Pokoke ga sia kami (Ndun2 tepatnya) rela bersusah payah naik kesini. Semua takjub denganMu, terimaksih untuk viewnya.
Jam 4.30pm kami turun dari Welirang setelah puas berfoto-foto. Kami turun bareng dengan mas-mas dari lupa aku (pokoke di kaos ku ada tanda tangane). Waktu itu dah mulai gelap jadi kami pake senter untuk turun. Smua dengan tampang serius turun bareng-bareng. Sekali-kali kami hitung semua anggota takut kalo ada yang hilang atau jangan-jangan malah tambah. Sempat juga ada beberapa yang terjatuh karena minimnya cahaya juga karena batunya yang g kokoh waktu diinjak. Malam itu begitu sepi, hanya suara nyanyianku yang terdengar. Semua begitu menikmati suaraku yang mengalun merdu, wkwkwk. Jam 7 kami nyampek di pondokan.
Kedatangan kami disambut nasi goreng dan bubur roti dari SMA7, tau aja kalo kami laper. Selain itu sudah ada api unggun besar di pondokan. Usut punya usut ternyata itu shelter yang terbakar. Sedih juga aku melihatnya. Kami tidak langsung buat tenda, tapi meghangatkan badan di api unggun, selesai tu baru bikin tenda. Rutinitas kami selanjutnya adalah masak makan malam. Feri dan Ndun2 kutinggal masak sendirian
Aku dah pusing waktu itu, mau tidur di dalam tenda tapi danies dah duluan terkapar disana. Akhire aku tidur di teras. Kepala ini rasane berat banget, aku masuk angin!!! Untung aku bawa antangin, aku langsung minum obate dan tak lama kemudian aku mutah di depan tenda. Yang keluar cuman air putih kekuning-kuningan. Aku lemes, beruntung ada yang bikinin mie rebus panas, thanks buat mie nya. Selesai makan mie aku tidur didalam tenda. Dan tak lama kemudian mutah gelombang ke dua terjadi. Kali ini giliran ransele danies yang jadi sasaran mutahanku, hehehe sory ya. Selesai mutah aku langsung tidur lagi, tapi ada seseorang yang baik hati mau ngolesin balsem ke kakiku sekaligus makein kaos kaki. Setelah itu aku ga sadar, terimakasih untuk yang telah merawatku
Arjuno Welirang H4
Setelah tiga malem tidur disini, Ndun2 yang paling rajin bangun pagi disusul Feri, aku n Danies paling molor, wkwkwkwkwk. Mulai masak jam 5.30am diikuti rutinitas selanjutnya pokeran lagi. Ndun2 tetap tak terkalahkan, heran aku ngeliatnya, pake ilmu apa sih dia, hehehehehehe. Coffe time pun tiba dan Ndun2 kalah, ternyata pengapesane Ndun2 sama makanan n minuman. Selesai coffe time, pokeran dilanjutkan. Aku mulai pusing, sepertinya masuk angin lagi. Minum obat trus tidur lagi
Jam 8.30 aku bangun, sepertinya aku dah baikan. Aku sempat ke tempat air buat bantu nemenin nyuci nesting. Sementara kita nyuci, Feri ma Ndun2 gantian BAB di toilet belakang. Heran gue, kok mereka tiap hari bisa BAB, aku aja selama ke gunung baru dua kali (di Wilis n Arjuno). Selesai nyuci kepalaku tambah pusing aku terbaring lagi d shelter dan mutah-mutah. Setelah yang terjadi malam itu, seharusnya Danies yang mutah-mutah, heheheheh, Peace!!!
Selesai kerokan n merasa baikan, aku paksain buat pulang. Jam 11.00am kita berangkat turun. Lali jiwo kami lewati begitu saja, kami ambil jalur penambang. Aku turun kesetanan. Aku kerasukan setan balsem gosok geliga!!!! Tubuh terasa terbakar, pengennya cepet sampai bawah trus, mandi air es. Aku pengen segera turun trus beli
Jam 1.30 kita cabut dari kop2an. Aku turun nyeker, sandalku dah mau betat. Wuih, ternyata batune lancip-lancip, aku cuman bisa nyengir aja nahan sakit. Speed aku tambah lagi, harus segera nyampek camping ground, alarm infeksi usus dah berdering. Jam 3.00pm baru nyampek camping ground trus makan. Akhirnya ngrasain
Sampai BKSDA kami tidak berlama-lama. Kita langsung ke Pandaan, cukup dengan uang 5000 kita berangkat. Di dalem angkot waktu itu ada temene Danies dari YABI. Sepanjang perjalanan kita ngobrol macem-macem, biasa, sesama pendaki senasib sepenanggungan. Turun di Pandaan langsung dijemput bus AC dengan tarif spesial, 5000!!! Mungkin karena ngeliat tampang kami yang kucel, kondekturnya ga tega narik ongkos banyak-banyak, wkwkwk
Sampai di Bungurasih sudah jam 6.30 pm. Langsung nyari bus yang ke Tulungagung. Ndun2 dapet giliran nawar ongkos, dengan tampangnya yang polos, akhirnya sepakat di angka 18.000. semua langsung masuk dan tidur. Maklum, dah ngantuk puoll. Bangun-bangun sudah sekitar Jombang, tepatnya di Mojoagung. Aku inget nama tempate coz waktu itu ada kecelakaan karena kepeleset aspal yang basah karena air hujan. Semoga mereka baik2 aja, amien.
Masuk Kediri disambut listrik mati n hujan deras. Di beberapa tempat air udah setinggi 50 an cm. Semua dah pada bangun, tinggal Ndun2 yang masih tidur. Aku sempatin liat foto-foto di kamerane Feri, Daneis sibuk sms buat jemput di jepun, Feri ngeliatin aku liat foto-foto.
Akhirnya kami tiba juga di Tulungagung, Feri m Ndun2 turun di BTA. Aku n Danies turun Jepun. Kitapun berpisah, setelah semua yang kami lewati bersama selama 4 hari 3 malam. Terimakasih semua, terimakasih udah mau bersusah-susah ke Arjuno Welirang, Terimakasih udah mau merawat aku yang sakit-sakitan, maaf bila aku nyusahin kalian semua.
Special Thanks To:
Danies
Ndun2
Feri
Helmy Aditya P
Hari Effendi
Nurkholis
Seivy Ayu
Ainun
Eko
Rony
Abdul RK
Dwi
Tim Jakarta
Semua pihak yang telah membantu perjalanan kami
Sampai ketemu di petualanganku selanjutnya!!
Arjuno Welirang H3
Kita bangun jam 05.30am. aku akhirnya sadar hasil perbuatanku semalem, ransele danies penuh lukisan grafiti mie, wkwkwkw. Selesai sarapan, bersih-bersih, ambil air kita bersiap berangkat. Sebelumnya kita foto-foto dulu dengan tim SMA7, hari ini kita berpisah dengan mereka. Kami ke Arjuno, mereka pulang ke
Perjalanan ke Arjuno dimulai dengan melewati lembah kijang. Lembah ini terdiri dari hamparan rumput yang luas dengan pagar pohon pinus. Lembah ini cocok banget buat dijadiin camp, cuman sayang airnya dikit. Selanjutnya masih berupa savana-savana kecil sampai kami tiba disavana terakhir.
Selanjutnya jalanan terjal sudah menunggu di depan, kami bersiap-siap. Sempat juga kami bertemu dengan rombongan yang baru turun dari Arjuno. Walaupn jalanya terjal, tapi kaki kami terasa ringan. Tidak terasa menyiksa, malah kami sangat menikmati. Entah kenapa, tapi perjalanan kali ini sangat "nyaman".
Entah berapa lama kami telah berjalan. Kami istirahat di sebuah tempat yang lumayan datar. Saking nikmatnya sampek ada yang pengen "nabung" disini. Pertama kali Ndun yang buang hajati, kemudian Feripun menyusul. Tinggal kami berdua yang tersisa, sendiri dibuai angin semilir, manteb!!! Tak lama kemudian ndun2 selesai dengan ritualnya demikian juga Feri. Kami melanjutkan perjalanan
Perjalanan berikutnya semakin keren. Semakin kami naek semakin kami sulit bernafas. Yup, diketinggian 3000+ oksigen makin tipis, jadi kita harus pinter-pinter ngatur nafas. Sampai di tugu perbatasan Pasuruan Malang aku sudah g kuat!!!! Aku akhirnya "nabung" juga, wkwkwkkw. Selesai, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dari sini Punncak bayangan kurang 1/2 jam lagi.
Satu hal yang membuat kami sedikit merinding ketika kami sampai di memoriam. Takut, sedih, haru bercampur jadi satu. Danies yang paling ngeri ngeliat memoriam, sampek nglarang Feri ambil foto. Aku menyempatkan diri untuk “ngobrol” sebentar dengan mereka. Semoga kalian tenang di alam
Huff, setelah berjalan kurang lebih 6 jam kami akhirnya sampai. Puncak Arjuno sangat berangin, angin nya kencang banget!! Hilang sudah semua lelah kami, semua tertebus disini. Dan akhirnya Ndun2 dilantik juga, coz waktu di Welirang aku bilang “Kalo mau tak lantik harus di Arjuno, kalo di welirang aku g mau”. Foto-foto, pelantikan, tanda tangan kaosku kemudian istirahat menikmati view Arjuno. Hari ini Arjuno berkabut, petir sekali-kali terdengar. Tapi jangan khawatir, Arjuno punya hadiah spesial buat kami. Waktu itu kami akan berangkat ke puncak Ogal Agil, tiba-tiba hujan datang. Ku pikir ini cuma hujan biasa tapi setelah kuperhatikan kok ada benda putih sebesar biji jagung berjatuhan. Ternyata hujan kali ini lain dari hujan biasanya, ini hujan es!!! Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ngerasain hujan es. Ga perlu jauh-jauh ke Eropa buat ngerasain hujan es, disini ada.
Setelah hujan es selesai, sekitar ½ jam, kami melanjutkan perjalanan ke puncak Ogal-Agil. Sebenarnya waktu itu masih hujan tapi udah ga seperti tadi. Puncak ogal-agil cuman berjarak 15 menit dari puncak memoriam. Ogal-agil adalah puncak tertinggi, tempat itu berupa batu-batu besar yang tertata dengan
Hujan masih saja menyertai kami, sekarang waktunya pulang. Rencananya sih kita mau lewat Lawang tapi berhubung cuaca yang tidak bersahabat (hujan, licin, jarak pandang cuman 10-15 m) kami memilih balik ke pondokan. Perjalanan pulang ini tak kalah berbahayanya karen faktor-faktor diatas. Kami berjalan pelan-pelan, ransel terasa makin berat karena basah. Jam 4.30pm kita makan siang (lebih tepatnya makan sore). Walaupun cuman roti seiris sudah cukup untuk mengganjal perut. Sebelum melanjutkan perjalanan air dua botol aqua aku buang disini, akhirnya aku cuman bawa 2 botol penuh, yes
Mataharipun makin redup, malam datang menggantikannya. Senterpun kami keluarkan sebagai penerangan. Malam itu sepi banget, yang terdengar hanya suara gemuruh angin yang menambah dingin malam ini. Semua udah pada lemes puoll, Ndun2 menyarankan untuk ngecamp disini aja, tapi aku paksain semuanya buat sampek pondokan. Dengan tenaga seadanya, kami tetap berjalan, jam 6.30 kami sampai di lembah kijang.
Satu jam kemudian kami tiba di pondokan. Lemes, dingin dan kelaparan. Kami tertolong oleh tetangga kami tim
Arjuno Welirang H1
Prolog
Semua berawal dari perkataan yang terucap beberapa bulan yang lalu. Waktu itu aku baru pulang dari Argopuro, kami masih sakit euforia gunung, dan pikiran itu keluar begitu saja. Libur lebaran enaknya kemana ya? Ide pertama kami pergi ke SS di Jateng. Waktu itu kita bertiga (Aku, Achsan, Fajri) dah yakin mau kesana. Kitapun sepakat.
Tapi, seiring puasa datang, pikiran itupun semakin tereduksi dan akhirnya lenyap. Sampai ada seorang yang bilang kalo hidupnya sangat membosankan, terjebak dalam rutinintas, teratur dan datar Mendengar kisahnya yang memilukan, wkwkwk, akupun tersentuh dan berkeinginan menyenangkannya. Arjuno Welirangpun terpilih untuk lepas dari rutinitas, keluar dari kotak.
Hari pertama
Langsung aja, kita sepakat untuk kumpul di stasiun Tulungagung jam 4.30 am. Jam 3.00 aku sudah bangun, hari itu aku mau nganter Achsan's family balik ke Sidorajo lewat terminal. Habis itu sambil nunggu jam 4.30 aku bongkar ransel lagi n untuk terakhir kali aku cheklist. Tapi waktu ternyata masih tersisa banyak, iseng-iseng aku telpon ke stasiun tanya jam berapa Matarmaja datang. Ternyata keratanya telat sampai sini jam 5.30, aku langsung nyebar sms dan mengubah jam meeting jadi 5.00. Cuman sayang Feri dah terlanjur nyampek stasiun, akhirnya aku ke Stasiun jam 4.30
Di stasiun waktu itu cuman ada aku dan Feri, yang lain belum datang. Ndun2 menyusul beberapa saat kemudian dan kita sarapan nasi bantingan di sebelah stasiun. Tinggal satu lagi anggota tim AW yang belum datang, yang paling cantik diantara kami semua, Danies. Si wonder women datang sekitar jam 5.10 diantar cewek juga, mungkin mbaknya. Semua kumpul dan sekarang giliran kita semua menunggu kereta.
Stasiun hari itu lain dari biasanya, banyak pemudik yang akan balik ke Surabaya, maklum hari ini adalah minggu dan besok senin libur kantor dah habis. Semua pingin balik hari ini dan beginilah jadinya, stasiun dah mirip pasar pagi aja. Kelainan yang kedua adalah kami, Fantastic Four. Kami seperti center of universe ketika masuk stasiun, semua memandang kami. Berpakaian seadanya, dan bawa ransel yang gede banget. Mungkin kami dikira alien dari planet mars yang lagi tersesat mencari jalan pulang.
Matarmaja berangkat dari stasiun jam 5.38 am dan semua tim AW dah masuk ke kereta. Kali ini tidak ada insiden ketinggalan kereta seperti waktu ke Lawu atau Argopuro dulu. Kereta tidak terlalu penuh, semua masih dapat tempat duduk. Danies, Feri, aku duduk berhadapan sementara Ndun2 di kursi belakang kami. Semua duduk sambil memangku "bayi" masing-masing.
Kereta melaju kencang, satu persatu stasiun kami lewati, ngunut, blitar, wlingi, kesamben, dan seterusnya. Semua makin mendekatkan kami dengan Malang, kota transit kami. Stasiun Malang pertama kami adalah sumberpucung disusul Kepanjen, kemudian kota lama dan terakhir stasiun kota baru Malang. Semua penumpangpun turun dan kami bertemu dengan saudara2 sepenggiat alam. Ternyata bukan cuman kami saja yang berencana memanfaatkan libutan untuk naik gunung. Hari itu setidaknya ada 3 rombongan dari Jakarta, ada yang mau ke Argopuro, Raung, dan Arjuno. Ternyata kami tidak sendiri. 8.45 am kami tiba di malang.
Tujuan selanjutnya adalah terminal Arjosari. Kami kesana naik angkot di perempatan klojen. Sebelumnya aku beli spidol dan fotokopi KTP buat urus perijinan di BKSDA. Dari Arjosari perjalanan dilanjutkan ke arah Pandaan. Dan tanpa sadar semua tertidur didalam bus, mungkin semua masih ngantuk. Waktu terbangun kami sudah akan sampai Pandaan, gunung Arjuno terlihat di sebelah kiri. Arjuno menyapa kami dengan dingin, sepertinya dia ga’ suka dengan kami yang lusuh, kumal, dan kucel. Dia takut kami akan mengotori pakaiannya.
Kami berangkat ke Tretes sekitar jam 10.30 am. Sebelumnya Feri pipis dulu di terminal Pandaan. Dari sini kami tidak naik bus lagi tapi ganti dengan colt. Penumpangnya cuman kami berempat dan 6 anak muda yang lagi liburan ke air terjun kake bodo. Feri duduk di depan dekat sopir, sisanya di belakang. Semua sudah ga’ sabar pingin segera kesana. Ada yang lucu waktu kami didalam colt, waktu itu semua lagi liat ke depan, melihat Arjuno. Mungkin emang udah seharusnya begitu, aku menoleh ke belakang sebentar (sekitar 3 detik) dan akupun melihat adegan “panas”
Sampai di BKSDA Tretes sudah masuk dzuhur. Pertama-tama kami lapor buat mengurus SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Daerah Konservasi). Rencananya kami berangkat hari ini pulangnya hari selasa. Waktu urus surat ini kami berkenalan dengan sesama pendaki dari lokal tretes, surabaya, dan masih banyak lagi. Sempat juga kami berfoto dengan mereka. Habis itu aku belanja baterai senter, kaos kaki n tangan di toko dekat BKSDA, makan siang dengan menu yang dibawain ibue Ndun2, ayam goreng dan nasi putih. Kira-kira 12.30 kita udah berangkat.
Sebelum aku cerita mengenai perjalanan kami, ada baiknya aku jelasin tempat2 yang dijadikan camp/tempat istirahat. Dari BKSDA naik dikit ada camping ground, trus kop2an, kemudian pondokan. Selanjutnya tinggal milih mau kemana, welirang ato ambil arjuno
Track pertama kami adalah BKSDA-Kop2an. Pertama kali kami harus melewati camping ground bawah, jalan disini sudah disemen. Jalannya masih lumayan datar, belum terlalu menanjak. Jalan semen ini habisnya di pos portal, mulai dari sini semennya berganti jalan berbatu. Feri mulai abis nafasnya jam 2.00 pm, kita pun istirahat. Oh iya lupa, kita ga jalan sendirian, ada tim Tretes dan juga tim SMA7 Sby, kita saling salip menyalip. Jalan setengah jam kita nyampek di warung Pak Sodik (hehehehe), kita smua (tim AW, Tretes, SMA7) istirahat dan kenalan. Ada Eko, Ainun, Nur, Ayu, Roni dan yang lain ga inget namane. Setelah perkenalan itu kami jalan bareng ke kop2’an.
Kami semua tiba disana jam 4.19 pm. Tim Tretes dan SMA7 ngecamp sini, tapi kami lanjut ke pondokan (sesuai planning). Sebelum lanjut, kami istirahat dulu disini. Sambil istirahat kita ngobrol kesana kemari, sedangkan Feri n Ndun2 asyik dengan tempe goreng di warung kop2’an. Ternyata kop2an rame banget. Waktu kami tiba sudah banyak pendaki lain yang mendirikan tenda. Ada lebih dari 7 tenda disini. Selain itu disini juga ada kamar mandinya, jadi kita bisa mandi, pipis, BAB dengan nyaman. Dan yang penting sumber air disini melimpah. Kop2an emang enak buat dijadinn camp
Setelah mengisi air ( Feri 2, Ndun 2, Danies 2, Aku 3 botol Aqua) kita berangkat. Waktu itu matahari udah mulai tenggelam. Kop2an naik udah mulai terasa, bentar-bentar Feri ruku’. Jalannya sudah dibuat model zigzag supaya naiknya lebih mudah tapi jadi agak jauh. Kalo mau yang cepet ambil jalur pintas tapi naiknya lebih kerasa. Berjalan ½ jam kami bertemu pendaki yang baru turun dari pondokan dan mengabarkan kalau pondokan ga’ ada air dan menyarankan untuk kembali ke kop2an untuk ambil stok air. Kitapun jadi bingung, terus naik atau ambil air lagi. Setelah diskusi singkat akhirnya kami memutuskan untuk turun ke kop2an ambil air dan ngecamp. ½ jam kemudian kami tiba di kop2’an lagi!!!
Disana kami disambut tim SMA 7 dan Tretes. Mereka udah selesai makan malam dan ngebangun tenda. Kamipun segera masak makan malam. Buat yang ga’ bisa masak silahkan kabur!!! Hehehehe. Makan malam kami adalah bubur ayam tambah telor ditambah kerlap-kerlip lampu kota dibawah sana, keren!!!!. Selesai itu kami ngrumpi bareng-bareng, mulai dari pengalaman ke gunung, cerita mistis di Arjuno, lelucon garing dll. Abis itu si Ndun2 n gadis kawat gigi kabur ke entah kemana, pamitanya sih lihat tenda yang mau kita jadiin tempat tidur. Tapi mereka lama banget hingga akhirnya Feri pun mencari mereka. Dan Feri ikut-ikutan menghilang, kita berdua jadi bingung, jadi mbangun tenda ato kita nunut di tenda mereka. Akhirnya kami main poker aj dengan anak SMA7 di gubuk dan belajar poker surabaya. Pokernya sih ga terlalu beda dengan poker Tulungagung cuman mereka ada tingkatan kartunya, wajik, keriting, hati merah kemudian yang tertinggi hati hitam. Selain itu ada fullhouse sama straight (seperti poker di komputer). Lama juga kami main pokernya (udah ada 2 jam lebih) tapi Feri n Ndun2 belum balik2 juga. Mata ini udah mulai ngantuk, dan kamipun tidur di dalam gubuk aja ama anak SMA7. Tak lama kemudian mereka bertiga (Ndun2, gadis kawat gigi, Feri) kembali. Meraka tidur di luar gubuk bertiga.
Argopuro H5
H5
Timer: 05.43-19.13
Event: Road To Tulungagung
Huff, akhirnya pulang juga. Seneng kita, setelah 4 hari 4 malem berjibaku di hutan Argopuro yang menakjubkan kita akhirnya pulang. All, aku pulang.
Jam 05.43 kita mulai bangun, kaya'e Fajri n Ma'ut yang pertama bangun. Packing bentar dan kemudian mandi kecil. Setelah dirasa cukup bersih target pertama kami nyari warung nasi, bosen kita makan mie n sarden, wkwkw. Ketemu warung yang udah buka jam 07.03, ibu e baru buka jadi kita harus nunggu sarapan normal pertama kita. Menu pagi kita adalah rawon dan teh anget, setelah hampir 4 hari 4 malem makan mie+sarden sarapan ini terasa nikmat banget.
Selesai sarapan udah jam 08.01 dan bus yang membawa kamipun tiba. Sambil nunggu pak sopir sarapan dan ganti ban kita pamitan ke polsek sekalian ambil ransel. 08.38 kita meningalkan Krucil.
Bus kami kami cuman berisi 8 penumpang. Perjalanan pulang ini sangat sepi, kami semua sudah sangat lelah untuk sekedar ngobrol. Noko n Ma'ut udah tertidur lagi, tinggal aku n Fajri yang masih bertahan. Jalanan Bremi Probolinggo lumayan berliku dan sedikit menurun. Beberapa kali aku sempat hampir terjatuh ketika bus ini berbelok. Jalanan udah mulai datar n lurus ketika masuk Pajarakan dan disini kita ketemu teman kita dari Universitas Panca Marga, kopral namanya. Aku ga tau gimana awalnya, tau-tau Noko n Ma'ut udah ngobrol dengan mereka. Dari percakapan inilah kami tahu suara air yang kami dengar sebelum hutan damar semalem adalah air terjun. 2 jam 15 menit kami ada di dalem bus ini.
Turun di terminal kecil, kami ganti naik lin kuning ke terminal Probolinggo. Ternyata Probolinggo lumayan besar, mungkin sama dengan Kediri. Jalannya relatif lebih bersih dan sangat madura sekali. 1/2jam kemudian kita udah di Terminal Probolinggo. Dua kali aku masuk terminal ini, pertama waktu aku ke rumah Bulekku 10 tahun yang lalu yang kedua ya sekarang ini. Beli oleh-oleh buat anak-anak dan langsung berangkat ke Malang. 11.14 kita keluar terminal
Bus yang kami naiki sangat parah!!! Setiap kena lubang siap-siap aj ada hujan abu lokal karena langit-langit bus ini udah berkarat. Suspensinya juga udah mati, jadi serasa di dalam shaker bartender. Tapi kita cuek aja, yang penting bisa cepet pulang, kangen ni ama orang rumah. Masuk Pasuruan udah jam 11.58. Disini kita sempet beli es degan, puanas abis.
Nyampek terminal Arjosari Malang udah jam 13.00. begitu turun kami langsung naik lin ke Stasiun Malang. Setibanya disana tanya loket kereta tiba pukul berapa? Dan ternyata Matarmaja kita g bisa berangkat, ada tabrakan di Solo. Apes, akhirnya kita balik kucing ke terminal Arjosari. Dapet bus ke Blitar udah jam 14.30 dan penuh puol. Aku n Ma'ut berdiri, yang laen dapet tempat duduk. Bus ini penuh banget, yang berdiri aj udah uyel-uyelan. Kita baru dapet tempat duduk di daerah Wlingi Blitar. Huff, setelah berdiri hampir 2 jam kahirnya duduk juga.
Jam 17.35 kita ganti bus lagi jurusan Tulungagung. Kali ini penumpange ganti anak-anak SMA. Jalanan udah gelap, tapi kita bisa ngerasain ada bulir-bulir air berjatuhan. 1 jam lagi kita nyampek rumah. Semua udah pada semangat sekarang, kita ngobrol kesana kemari pe' Tamanan, kemudian jalan kaki ke rumahe Fajri. Dan Petualangan kami ke Argopuro secara resmi DITUTUP!!!
Ucapan terimakasih
Allah SWT
Bapak, Ibu, Saudara, Teman yang ga bisa kami sebutin satu persatu
Bapak Subari
Tim Jakarta 13
Tim Lampung
Tim Jakarta 4
Tim Jakarta 6
Bapak Arifin
Polsek Krucil
Yang tidak dapat kami sebutkan.
Terimakasih!!!
Argopuro H4
H4
Timer: 05.00-22.00
Tracking: 12 jam
Pagi ini kami males bangun pagi. Alarm bunyi jam 4.00 aku biarin aj. Entah dah berapa lama bunyinya, kita cuekin. Yang bangun pertama aku g tau, coz masih nguantuk banget (semalem g bisa tidur, dingin puollll). Waktu aku dah bangun mereka dah masak n buat kopi. Sory all g bisa bantuin. Ritul wajib berikutnya adalah makan pagi dengan mie, sarden, srondeng, sambel pecel. Kenyang, dan saatnya cuci nesting
Pagi ini kami ketemu teman baru, anak Jakarta. Bukan yang 12 kemaren tapi anak Jakarta yang laen, mereka ber4. Kami ngobrol dengan mereka sekalian nyuci nesting ( camp mereka deket sungai). Selesai itu kita bakar-bakar sampah plastik yang kita kumpulin dari sekitar shelter. Lumayan banyak juga, tapi karena alam ga bisa daur ulang plastik kita g seharusnya buang mereka. Alam bukan tempat sampah!!!
Jam 9.12 kita berangkat pulang. Tujuannya kami yang pertama adalah Aeng kenek. Jalannya landai dan bekas kebakarannya masih keliatan dimana-mana. Ternyata Aeng kenek dekat, cuman 1 jam dari Cisentor. Dan disini kami ketemu pohon arbei gede. Kalo biasanya kita liat arbei setinggi 1 meteran (pengalaman di wilis) disini ada arbei setinggi 3 meter!!!. Isi air bentar dan kita berangkat lagi.
Keluar dari Aeng kenek jalannya mulai menajak dan vegetasi ganti ke savana bunga putih. Perjalanan ke Pos Cemara Lima ini sangat naik turun. Entah udah berapa kali kami naik turun punggungan, pokoke banyak. Kondisi jalannya masih jelas, kami hanya menemukan 1 percabangan yang cukup membingungkan (jam 11.50). Coz di panduan, ga' ditulis, kami akhirnya observasi bentar. Aku ambil yang kiri n Fajri ambil yang kanan. Setelah hampir setengah jam observasi kami sepakat ambil kiri Pemandangan berikutnya adalah lereng berbunga. Dengan kemiringan 60-70 kami serasa berjalan menuju surga, wkwkwkw.
Jam 12.50 kami tiba di Pos Cemara Lima. Seharusnya namanya bukan cemara lima coz cemaranya banyak. Dan untuk pertamakalinya kami ketemu dengan tikus hutan. Mirip tikus rumahan sih tapi lebih kecil dan berbulu (mirip hamster). Kita sempat di buat kaget juga waktu mereka datang ke kami, menghindar adalah opsi pertama, loncat2 adalah opsi kedua dan hajar untuk opsi terakhir. Aku mabil yang ketiga. Tujuan berikutnya adalah Hutan Lumut.
Perjalanan ke Hutan Lumut sungguh menantang. Turunan tajam menyambut kami begitu keluar dari Pos Cemara Lima dengan resiko jatuh ke jurang bila terpeleset. Kita ga bayangin gimana naiknya kalo berangkat dari Bremi, dan belum kering lidah ini ngomong kita ketemu anak dari jakarta lagi yang sedang naik!! Kita cuman bengong aj waktu ngeliat mereka pertama kali. Dan pertanyaan wajibnya adalah "Masih jauh mas ke Cisentor?" Mau dijawab jujur kok ga tega ngeliat muka2 letih lesu mereka, g jujur ya gimana. Akhirnya ku jawab yang abu-abu aja,"lumayan, cuman naik turun doank" ga aku critain berapa kali naik turunnya, wkwwkkw
Jam 14.10 kita mulai masuk pintu Hutan lumut. Hutannya kereeennn, pohon setinggi 30-40 meteran dengan diameter 1-2 meter yang dibalut lumut menambah rasa syukur kami kepada Allah SWT. Hutannya sangat rapat, sampek-sampek kita g bisa ngeliat langit. Dan karena itu, hutan lumut ga mengenal siang, yang ada cuman pagi dan sore. Jalannnya mulai dari sini udah datar dan Indah!!!!! Kita serasa berada di dunia laen aja, ga nyangka masih ada hutan seperti ini di Indonesia. Semoga ilegal logging g masuk kesini, amien
Sampai ke pertigaan ke Danau Taman Hidup udah jam 15.02. Mulai dari sini bersiaplah untuk berdzikir coz viewnya ajib banget!!!!! Ya Danau Taman Hidup sungguh mempesona. Danaunya dikelilingi hutan hujan tropis. Dan kenapa dberi nama taman hidup? Disini kabut selalu hadir, mereka bergerak di atas danau seolah2 sedang menari menyambut kami, mereka hidup!!! Mereka sungguh balerina sejati, tanpa cacat. Hampir satu jam kami disini dan ga bosen-bosen liat mereka menari.
Rencana awal kita mau ngecamp disini. Tapi berhubung disini selalu gerimis dan banyak sekali jejak babi hutan kitapun melanjutakan perjalanan kembali. Selamat tinggal, kapan2 kita kemari lagi. Jam 15.53 kita berangkat pulang ke Bremi (tujuan terakhir).
Perjalanan menuju Bremi sangat membingungkan, banyak percabangan. Kitpun dibuat bingung saking banyaknya. Untungnya banyak pendaki yang buat tanda disini, ad remah2 kertas, pita kuning, rafia merah biru. Kita cukup tertolong dengan tanda-tanda tersebut, terima kasih ya. Selain bercabang, jalannya juga sangat becek, satu persatu dari kami merelakan sandalnya masuk ransel (daripada betat). Kegiatan berikutnya adalah hitung skor. Pantat nyentuh tanah 1, 1/2 bila bisa nahan. Di akhir cerita tak kasih tau berapa skornya.
Tantangan berikutnya adalah gelap. Begitu udah masuk maghrib jalannya mulai tidak terlihat. Kosekuensinya tanda-tanda yang kita pake buat patokan jadi tidak terlihat. Dan ketika bertemu percabangan semakin bingunglah kami, udah gelap, tandanya juga ga terlihat, komplit sudah. Akhirnya kita buat perjanjian, setiap ad yang ngeliat tanda-tanda (remah roti, pita kuning, rafia biru or merah) harus teriak biar kita g bingung. Jadi sepanjang perjalanan yang kita dengar cuman teriakan remah, kuning, dan rafia, ga ada suara lain. Sempat suatu ketika kami lama ga mendengar teriakan itu, aku sendiri sempat mikir apa kita salah jalan ya coz hampir 20 menitan aku ga denger terikan remah, kuning ato rafia. Tapi itu tak beberapa lama coz 3 menit kemudian ku dengar suara itu lagi, terima kasih Tuhan.
Di tengah-tengah perjalanan kami juga mendengar suara air. Mungkin air terjun, berhubung udah malem kita ga bisa liat air terjunnya. Kata temen yang kita temuin waktu pulang ke Proboliggo (Kopral, anak UPM) sebelum masuk hutan damar ada air terjun di sebelah kanan, biasanya anak2 ngecamp disana.
Hutan Damar kami sentuh jam 19.09. Waktu itu kami udah lemes puoll dan mutusin untuk istirahat disini, kami sempat berpikir untuk bikin camp disini aj. Makan mie remes sambil berharap ada yang mau njemput kita, wkwwkkw. Dan permohonan kami terkabul!!!! Jauh di depan ad nyala senter yang menuju kami. Siapa ya malem-malem gini naek ke puncak? Namanya Pak Arifin dan dua temennya, usut punya usut beliau sedang nganter peziarah dari Tulungagung n Trenggalek. Dan kita juga dikasih tau kalo Bremi kurang 1 jam lagi. Wkwwkwk betapa senangnya kita mendengar kata "1 jam lagi" itu. Dan kita juga ditawarin nginep dirumah Beliau, Terimakasih Pak!!!
Hutan damar terlewati dan berganti kebun warga. Kebanyakan sih nanem jagung n sayuran. Mulai dari sini senter kami udah mau mati aj. Tapi beruntung kami udah g d dalem hutan lagi, rembulan lumayan memberi sinarnya. Dan yang penting tanda-tanda peradaban udah terlihat di depan. Lampu dari Bremi dan tower GSM udah terlihat dan terdengar suara speaker dari wisuda santri di desa Bremi. Suara yang kami g ngerti coz pake bahasa madura tapi cukup untuk menambah beberapa strip semangat kami. Dan yang namanya kebun pasti banyak jalannya, kita g ambil pusing waktu nemuin banyak percabangan disini, pokoke ambil yang menuju lampu, wkwkkwk.
Jam 21.00 kita ketemu jalan desa dan ketemu penduduk lokal yang mau dateng ke tempat wisuda santri. Dan yang bikin heran smua rumah disini g ad orangnya, mirip seperti sebuah kota yang terserang wabah penyakit mematikan, sunyi n suepi. Kalo kita mau rampok semua rumah juga bisa, wwkwk. Bayangin aja, setengah jam kami jalan dan g nemuin rumah yang ada orangnya. Ternyata mereka semua pergi ke acara wisuda santri. Sama waktu aku kecil dulu, kalo ada hiburan (entah jaranan ato wayang) dijamin g ada orang dirumah, semua tumpekblek liat tontotonan,maklum g tiap tahun desaku ada tontonan kaya' itu, wkwkwk.
Tiba di Polsek g ada orangnya (Kantor polisi aj ampe sepi, hebat!!). Setelah cukup lama menggedor pintu akhirnya ada orang juga (Cuma 1 orang yang jaga). Kitapun minta ijin tidur d garasi. Setelah ijin turun kita langsung buka tenda dan tidur!!!! Setelah berjalan 12 jam dan ngelewatin view-view yang menakjubkan kita merelakan tubuh ini dipeluk malam, pasrah.
Hampir lupa, skor akhir Noko: 5, Maut: 3, [HaSo]: 4, Fajri 4








